Jakarta – Harga minyak dunia turun lebih dari 5 persen setelah muncul kabar kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Sentimen positif ini langsung disambut pasar karena dinilai dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi global.
Kesepakatan tersebut juga membuka harapan bagi normalisasi aktivitas perdagangan energi di kawasan Timur Tengah, khususnya melalui Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur penting distribusi minyak dunia.
Pada perdagangan terbaru, harga minyak mentah Brent turun 5,1 persen dan ditutup di level USD 78,96 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 5,8 persen ke posisi USD 76,05 per barel.
Penurunan ini membuat harga minyak dunia kembali berada di bawah USD 80 per barel. Angka tersebut juga menjadi level terendah sejak awal Maret 2026.
Bagi pelaku pasar, penurunan ini menunjukkan berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Harga minyak dunia mulai melemah setelah rincian kesepakatan sementara antara AS dan Iran terungkap ke publik. Salah satu poin yang menjadi perhatian pasar adalah potensi dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Selama periode konflik, aktivitas distribusi energi di kawasan tersebut mengalami gangguan yang memicu kekhawatiran investor. Akibatnya, harga minyak sempat melonjak karena pasar memperhitungkan risiko berkurangnya pasokan global.
Kini, dengan adanya peluang perdamaian, kekhawatiran tersebut mulai mereda. Investor pun kembali optimistis terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati wilayah ini setiap harinya.
Karena perannya yang sangat vital, setiap perkembangan geopolitik di kawasan tersebut hampir selalu memengaruhi harga minyak dunia.
Harapan bahwa arus pengiriman minyak akan kembali normal membuat pasar mengurangi premi risiko yang sebelumnya dibebankan pada harga minyak. Inilah yang menjadi salah satu faktor utama turunnya harga minyak dalam beberapa hari terakhir.
Meski pasar merespons positif kesepakatan damai tersebut, sejumlah analis mengingatkan bahwa proses pemulihan distribusi energi tidak akan terjadi secara instan.
Aktivitas kapal tanker di kawasan Teluk masih terbatas dan memerlukan waktu untuk kembali beroperasi secara normal. Selain itu, pelaku industri energi juga perlu memastikan keamanan jalur distribusi sebelum meningkatkan volume pengiriman.
Namun demikian, arah pergerakan pasar menunjukkan bahwa investor mulai percaya kondisi akan membaik dalam beberapa waktu ke depan.
Optimisme terhadap perdamaian AS dan Iran juga mendorong sejumlah lembaga keuangan global menyesuaikan proyeksi harga minyak mereka.
Stabilitas pasokan energi dari Timur Tengah diperkirakan dapat membantu menekan tekanan inflasi global sekaligus mengurangi ketidakpastian ekonomi yang selama ini membayangi pasar.
Sebelumnya, konflik antara AS dan Iran sempat mendorong harga minyak mendekati USD 120 per barel karena kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi dunia.
Kini, seiring membaiknya hubungan kedua negara dan meningkatnya peluang perdamaian, harga minyak dunia kembali bergerak menuju level yang lebih stabil dan terkendali.
platform media online yang berdedikasi untuk menyampaikan berita dan informasi yang berfokus pada penyajian fakta dan peningkatan kesadaran masyarakat.