Gelombang aksi mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam beberapa hari terakhir muncul di sejumlah daerah di Indonesia. Demonstrasi yang berlangsung di Jakarta, Batam, Medan, Jember, Garut, hingga Mataram ini hadir di tengah maraknya aksi masyarakat sipil yang sebelumnya menuntut evaluasi bahkan penghentian program tersebut.
Fenomena munculnya aksi dengan narasi berlawanan itu memunculkan perhatian dari kalangan akademisi dan pengamat kebijakan publik. Mereka menilai perlu ada kajian lebih mendalam untuk memastikan bahwa dukungan yang ditampilkan benar-benar berasal dari aspirasi masyarakat dan bukan bagian dari mobilisasi politik.
Sejak awal Juni 2026, sejumlah kelompok masyarakat sipil, mahasiswa, hingga organisasi perempuan menggelar aksi protes terhadap pelaksanaan MBG. Mereka menyoroti berbagai persoalan mulai dari tata kelola anggaran, kualitas makanan, hingga dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan program.
Di tengah kritik tersebut, muncul aksi tandingan yang menyuarakan dukungan terhadap keberlanjutan MBG. Massa aksi menyebut program tersebut memberikan manfaat langsung bagi pelajar, pekerja dapur MBG, hingga pelaku usaha yang terlibat dalam rantai distribusi pangan.
Di Jakarta, demonstran menggelar aksi di kawasan Patung Kuda dan menyampaikan aspirasi agar program tetap dilanjutkan sembari memperbaiki berbagai kelemahan yang ada.
Guru Besar Departemen Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada, Amalinda Savirani, menilai kemunculan aksi dengan narasi tandingan bukan fenomena baru dalam dinamika politik Indonesia.
Menurutnya, pola serupa kerap muncul ketika terdapat gelombang kritik terhadap kebijakan pemerintah. Dalam sejumlah kasus sebelumnya, narasi yang saling berhadapan berpotensi memecah masyarakat dan mengalihkan fokus dari substansi persoalan yang sedang diperdebatkan.
Ia mengingatkan pemerintah perlu lebih fokus pada penyelesaian akar masalah dibanding sekadar membangun dukungan publik melalui berbagai aksi massa.
Perdebatan semakin menguat setelah muncul pengakuan sejumlah peserta aksi yang menerima uang transportasi maupun fasilitas tertentu saat mengikuti demonstrasi.
Peneliti Transparency International Indonesia, Agus Sarwono, menilai apabila pemberian insentif tersebut berkaitan langsung dengan aksi dukungan terhadap MBG, maka hal itu berpotensi mengaburkan fungsi demonstrasi sebagai sarana penyampaian aspirasi warga.
Menurutnya, ruang demokrasi harus tetap dijaga agar tidak berubah menjadi instrumen propaganda yang digunakan untuk membentuk persepsi publik secara terencana.
Salah satu aksi yang paling mendapat sorotan terjadi di Batam. Dalam kegiatan tersebut, ratusan siswa SD dan SMP ikut serta dalam pawai dukungan terhadap MBG bersama guru dan unsur pendidikan lainnya.
Beberapa guru mengaku memperoleh informasi kegiatan melalui grup komunikasi sekolah. Sementara sebagian orang tua menyampaikan kekhawatiran terkait keterlibatan anak-anak dalam kegiatan yang bernuansa politik atau kebijakan publik.
Pemerintah Kota Batam membantah adanya instruksi dari pemerintah pusat. Dinas Pendidikan setempat menyebut keikutsertaan peserta bersifat sukarela dan bertujuan menyampaikan aspirasi terkait manfaat program bagi siswa.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa dukungan terhadap MBG memang datang dari masyarakat yang merasakan manfaat langsung program tersebut.
Pihak pemerintah menyebut banyak kelompok penerima manfaat, relawan, hingga mitra pelaksana yang ingin program tetap berjalan karena dinilai membantu pemenuhan gizi anak sekaligus membuka lapangan pekerjaan.
Selain itu, sejumlah survei menunjukkan tingkat dukungan publik terhadap MBG masih relatif tinggi meski kritik terhadap pelaksanaannya terus bermunculan.
Meski terdapat kelompok yang mendukung keberlanjutan MBG, sejumlah akademisi dan organisasi masyarakat sipil menilai evaluasi menyeluruh tetap harus dilakukan.
Mereka meminta pemerintah memperkuat transparansi penggunaan anggaran, memperbaiki tata kelola program, serta memastikan setiap dugaan penyimpangan diproses secara hukum.
Menurut para pengamat, keberhasilan program sebesar MBG tidak cukup diukur dari popularitasnya semata, tetapi juga dari efektivitas, akuntabilitas, dan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
platform media online yang berdedikasi untuk menyampaikan berita dan informasi yang berfokus pada penyajian fakta dan peningkatan kesadaran masyarakat.