Jakarta, BeritaKabar.com – Nilai tukar Rupiah kembali menjadi sorotan tajam setelah menembus angka psikologis Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 23 Oktober 2024. Peristiwa ini menandai level terendah Rupiah sejak krisis moneter akhir 1990-an dan memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar serta masyarakat. Bank Indonesia (BI) segera merespons dengan mengungkapkan pemicu utama di balik tren Rupiah melemah ini, sekaligus menegaskan langkah-langkah stabilisasi yang tengah ditempuh untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Pada penutupan perdagangan kemarin, kurs Rupiah berada di posisi Rp 18.015 per dolar AS, setelah sempat menyentuh level tertinggi Rp 18.050 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi secara bertahap dalam beberapa waktu terakhir, namun akselerasinya kian terasa pasca-pernyataan kebijakan moneter terbaru dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. Sentimen pasar global yang cenderung risk-off turut memperparah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Situasi ini menunjukkan volatilitas tinggi pada nilai tukar Rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (24/10), menjelaskan bahwa tekanan terhadap Rupiah melemah utamanya dipicu oleh dua faktor besar: eksternal dan internal. BI secara cermat memantau pergerakan ini dan telah mengidentifikasi akar masalahnya.
Perry Warjiyo menegaskan bahwa faktor eksternal menjadi pendorong utama pelemahan kurs Rupiah. Beberapa poin penting yang diungkapkan BI meliputi:
Meski tidak sekuat faktor eksternal, Perry Warjiyo juga menyoroti adanya faktor internal yang sedikit memberikan tekanan. “Kami melihat ada peningkatan kebutuhan dolar dari korporasi untuk pembayaran utang luar negeri dan impor pada periode tertentu. Selain itu, sentimen investor domestik juga sedikit terpengaruh oleh kondisi politik menjelang transisi pemerintahan,” jelasnya. Namun, BI memastikan bahwa likuiditas dolar di pasar domestik masih terjaga dengan baik.
Menyikapi kondisi Rupiah melemah, Bank Indonesia tidak tinggal diam. Berbagai instrumen kebijakan telah dan akan terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Langkah-langkah tersebut meliputi:
Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan di tengah dinamika global yang menantang. Meskipun Rupiah melemah secara signifikan, BI meyakini fundamental ekonomi Indonesia masih solid, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang resilien dan inflasi yang terkendali. BI mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk tetap tenang dan tidak panik, serta tidak melakukan aksi spekulasi yang dapat memperkeruh kondisi pasar. Terus ikuti informasi resmi dari sumber terpercaya seperti Bank Indonesia dan pemerintah.
Untuk mendapatkan pembaruan terkini mengenai perkembangan ekonomi dan kebijakan fiskal, Anda dapat membaca berita terkait di BeritaKabar.com.