Dinamika geopolitik di Timur Tengah kembali bergejolak setelah runtuhnya rezim diktator Bashar al-Assad di Suriah pada Desember 2024. Peristiwa bersejarah ini tidak hanya mengubah peta kekuasaan internal Suriah, tetapi juga memicu peningkatan aktivitas Militer Israel di wilayah tersebut. Puncaknya, Israel dilaporkan mengambil alih zona demiliterisasi yang selama ini dipantau oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pertanyaan besar pun muncul: mengapa Militer Israel makin agresif di Suriah pasca-runtuhnya rezim Assad?
Kejatuhan rezim Assad setelah lebih dari lima dekade berkuasa menandai akhir dari stabilitas semu yang rapuh di Suriah. Kekosongan kekuasaan yang tercipta membuka peluang baru bagi berbagai aktor domestik dan regional untuk memperluas pengaruhnya. Selama bertahun-tahun, rezim Assad menjadi sekutu utama Iran dan Hizbullah, kelompok-kelompok yang dianggap sebagai ancaman langsung oleh Israel.
Runtuhnya rezim ini menciptakan ketidakpastian keamanan yang signifikan di perbatasan Israel. Zona demiliterisasi yang sebelumnya menjadi penyangga, dengan kehadiran pengamat PBB, kini menjadi area abu-abu yang rentan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok non-negara atau kekuatan lain yang berpotensi memusuhi Israel.
Zona demiliterisasi di perbatasan Suriah dan Israel telah ada sejak Perjanjian Gencatan Senjata 1974, setelah Perang Yom Kippur. Area ini dirancang untuk mencegah konflik langsung dan menjadi tanggung jawab pasukan penjaga perdamaian PBB (UNDOF). Dengan runtuhnya rezim Assad, mandat PBB di zona tersebut diperkirakan menghadapi tantangan besar, bahkan mungkin terhenti.
Menurut laporan dari Kompas.com pada 22 Agustus 2026, Israel mengambil langkah cepat dengan menguasai zona strategis ini. Tindakan ini merupakan respons langsung terhadap perubahan drastis di Suriah, yang kini tanpa pemerintahan pusat yang kuat dan stabil. Pengambilalihan ini bertujuan untuk menciptakan zona penyangga keamanan yang lebih efektif bagi Israel, mengantisipasi potensi ancaman baru dari wilayah Suriah yang tidak terkendali.
Peningkatan agresi Militer Israel di Suriah didasari oleh beberapa motif utama yang berkaitan erat dengan keamanan nasional dan stabilitas regional. Tindakan ini bukanlah tanpa alasan, melainkan respons terhadap perubahan fundamental di lingkungan strategisnya.
Israel secara konsisten memandang kehadiran militer Iran dan kelompok proksi seperti Hizbullah di Suriah sebagai ancaman eksistensial. Runtuhnya rezim Assad menghilangkan salah satu penghalang, betapapun lemahnya, terhadap konsolidasi kekuatan Iran di perbatasan Israel. Oleh karena itu, agresi Israel bertujuan untuk mencegah pembentukan basis militer musuh di dekat perbatasannya.
Selama bertahun-tahun, Iran telah menggunakan Suriah sebagai koridor vital untuk mengirimkan senjata dan dukungan kepada Hizbullah di Lebanon. Dengan absennya rezim Assad, Israel mungkin melihat kesempatan untuk secara proaktif mengganggu jalur pasokan ini dan membatasi kemampuan Iran untuk memproyeksikan kekuatan di wilayah tersebut. Agresi Militer Israel ini adalah upaya untuk membentuk kembali lanskap keamanan demi kepentingannya.
Kekosongan kekuasaan pasca-Assad menciptakan peluang bagi Israel untuk bertindak lebih leluasa di Suriah tanpa menghadapi respons terorganisir dari pemerintah Suriah. Sebelumnya, serangan Israel seringkali dibalas dengan retorika atau serangan sporadis dari militer Suriah. Kini, dengan tidak adanya entitas negara yang kuat, Israel dapat melakukan operasi militer dengan risiko balasan yang lebih rendah.
Pengambilalihan zona demiliterisasi dan peningkatan agresi Militer Israel di Suriah diperkirakan akan memicu berbagai reaksi dari komunitas internasional dan aktor regional. Negara-negara besar seperti Rusia dan Amerika Serikat, yang memiliki kepentingan di Suriah, mungkin akan meninjau kembali strategi mereka. Negara-negara tetangga Suriah juga akan merasakan dampak dari ketidakpastian dan potensi eskalasi konflik ini.
Implikasi jangka panjang dari tindakan Israel ini masih belum jelas, namun dapat dipastikan bahwa peta geopolitik Timur Tengah akan terus bergejolak. Kawasan ini akan terus menjadi sorotan global seiring dengan upaya berbagai pihak untuk mengisi kekosongan kekuasaan dan membentuk tatanan baru di Suriah.
Runtuhnya rezim Assad pada Desember 2024 menjadi titik balik signifikan yang mendorong Militer Israel untuk bertindak lebih agresif di Suriah, termasuk pengambilalihan zona demiliterisasi. Motif utama di balik agresi ini adalah kekhawatiran keamanan nasional, upaya mencegah pengaruh Iran, dan pemanfaatan kekosongan kekuasaan. Perkembangan ini menegaskan kompleksitas konflik di Timur Tengah dan pentingnya memahami setiap perubahan dinamika regional.
Untuk memahami lebih lanjut bagaimana Militer Israel dan aktor regional lainnya akan membentuk masa depan Suriah, terus ikuti berita terkini di portal kami. Baca juga berita terkait perkembangan geopolitik di Timur Tengah untuk informasi yang lebih mendalam.