Jemaah haji dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan memulai pergerakan monumental dari Mekkah menuju Arafah pada 8 Zulhijah 1447 Hijriah, atau bertepatan dengan Senin, 25 Mei 2026. Informasi ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenhaj RI), Maria Assegaff. Bersamaan dengan persiapan ini, Arab Saudi mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem selama pelaksanaan Haji 2026, dengan suhu di Mekkah diperkirakan mencapai 47 derajat Celsius disertai angin debu dan pasir.
Maria Assegaff menjelaskan bahwa pergerakan jemaah haji menuju Arafah merupakan salah satu tahapan krusial dalam rangkaian ibadah haji. Prosesi ini menandai dimulainya puncak ibadah haji, di mana jemaah akan melaksanakan wukuf di Arafah. Penetapan tanggal 25 Mei 2026 sebagai awal pergerakan didasarkan pada perhitungan kalender Hijriah yang telah dikonfirmasi oleh otoritas terkait.
Kemenhaj RI terus berkoordinasi dengan pihak berwenang di Arab Saudi untuk memastikan kelancaran dan keamanan pergerakan jemaah. Persiapan logistik dan transportasi menjadi fokus utama agar seluruh jemaah dapat tiba di Arafah dengan selamat dan nyaman, meskipun dihadapkan pada tantangan cuaca selama Haji 2026.
Otoritas Arab Saudi telah mengeluarkan peringatan serius terkait kondisi cuaca yang akan dihadapi selama musim Haji 2026. Prediksi menunjukkan suhu di Mekkah dapat mencapai puncaknya hingga 47 derajat Celsius. Kondisi ini diperparah dengan potensi angin debu dan pasir yang dapat mengurangi jarak pandang dan memengaruhi kenyamanan serta kesehatan jemaah.
Cuaca panas ekstrem ini berpotensi menimbulkan risiko kesehatan, terutama bagi jemaah lansia atau mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Dehidrasi, sengatan panas (heatstroke), dan gangguan